Blog

Talent Is Overrated #3: Bekerja Tidak Sama dengan Berlatih

9 Oktober 2026Human Resource · Self Improvement · Book Review
Talent Is Overrated #3: Bekerja Tidak Sama dengan Berlatih

Penerima Umpan yang Tidak Cukup Cepat

Jerry Rice tumbuh di Crawford, sebuah kota kecil di Mississippi dengan penduduk kurang dari tujuh ratus orang. Ia bahkan harus dibujuk dulu untuk bergabung dengan tim football sekolahnya. Kariernya di kampus cukup gemilang, tetapi ia bermain di universitas kecil, dan kecepatannya dianggap biasa saja untuk ukuran liga profesional. Pada draft NFL 1985, lima belas tim melewatkannya sebelum San Francisco 49ers akhirnya merekrutnya.

Hari ini, Rice dianggap sebagai penerima umpan terbaik dalam sejarah NFL. Sebagian pengamat bahkan menyebutnya pemain terbaik di posisi mana pun.

Ketika orang bertanya apa yang membuatnya sehebat itu, jawabannya nyaris seragam: ia berlatih lebih keras daripada siapa pun. Ia tetap berlatih lama setelah rekan-rekannya pulang. Di luar musim kompetisi, ia berlatih enam hari seminggu tanpa disuruh siapa pun. Pagi hari ia berlari di jalur perbukitan sejauh delapan kilometer, dan sore harinya berlatih beban. Program latihannya begitu berat sampai beberapa pemain lain yang mencoba ikut jatuh sakit sebelum hari berakhir.

Tapi Colvin mengingatkan bahwa pelajaran dari kisah ini bukan sekadar "kerja keras membuahkan hasil". Kita sudah melihat di tulisan pertama bahwa kerja keras saja sering kali hanya membuat orang menjadi cukup baik. Ada hal lain dalam cara Rice berlatih. Salah satunya, ia hampir tidak menghabiskan waktu untuk bermain football itu sendiri. Waktunya habis untuk melatih kebugaran, mempelajari rekaman pertandingan, dan mengulang pola-pola permainan tertentu bersama rekan setimnya.

Para Pemain Biola di Berlin

Untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Colvin membawa kita ke salah satu penelitian paling terkenal dalam studi tentang keahlian. Anders Ericsson dan rekan-rekannya meneliti para mahasiswa biola di sebuah akademi musik ternama di Berlin. Para profesor diminta mengelompokkan mahasiswa mereka menjadi tiga: yang terbaik dan berpotensi menjadi solois kelas dunia, yang baik, dan yang cukup baik untuk menjadi guru musik.

Dari banyak sisi, ketiga kelompok itu serupa. Mereka mulai belajar biola di usia yang hampir sama, sekitar delapan tahun, dan memutuskan menjadi musisi di usia sekitar lima belas tahun. Mereka juga sepakat bahwa latihan sendiri adalah kegiatan paling penting untuk menjadi lebih baik, sekaligus kegiatan yang paling tidak menyenangkan.

Semua tahu, tapi tidak semua melakukannya. Ketika para peneliti menghitung total jam latihan sepanjang hidup mereka, perbedaannya sangat jelas. Di usia delapan belas tahun, kelompok terbaik rata-rata sudah berlatih sekitar 7.400 jam, kelompok kedua sekitar 5.300 jam, dan kelompok ketiga sekitar 3.400 jam.

Pola yang sama terlihat di bidang lain. Herbert Simon, peraih Nobel, bersama William Chase merumuskan apa yang kemudian dikenal sebagai ten-year rule. Mereka mengamati bahwa tidak ada pemain catur yang mencapai level tertinggi tanpa belajar secara intensif selama sekitar sepuluh tahun. Bobby Fischer, yang menjadi grandmaster di usia enam belas, sudah belajar catur secara intensif selama sembilan tahun sebelumnya. Penelitian-penelitian berikutnya menemukan pola serupa di matematika, sains, komposisi musik, renang, hingga sastra.

Lima Ciri Latihan yang Sebenarnya

Di bab kelima, Colvin merinci apa yang dimaksud dengan deliberate practice. Definisinya ia rangkum dalam satu kalimat:

Deliberate practice memiliki beberapa karakteristik utama yang patut kita cermati. Aktivitas ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan performa, sering kali dengan bimbingan seorang pengajar; dapat dilakukan berulang kali; memberikan umpan balik yang berkelanjutan mengenai hasil yang dicapai; menuntut konsentrasi mental yang tinggi

Pertama, dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan. Kata kuncinya adalah dirancang. Colvin mencontohkan dirinya sendiri yang berlatih golf di driving range dengan merancang latihannya sendiri, padahal ia sama sekali tidak punya pengetahuan untuk itu. Hampir di setiap bidang, sudah ada pengetahuan yang terkumpul selama puluhan bahkan ratusan tahun tentang cara terbaik mengembangkan kemampuan, dan pengetahuan itu biasanya dimiliki oleh pelatih atau guru. Karena itu, setidaknya di tahap awal, peran pelatih hampir selalu dibutuhkan. Bukan hanya karena pengetahuannya, tetapi juga karena ia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat dari diri sendiri. Pegolf terbaik dunia pun tetap punya pelatih. Seorang pelatih catur bisa melihat ancaman yang terus-menerus luput dari muridnya, dan seorang coach bisnis bisa melihat bahwa seorang manajer selalu gagal menyampaikan maksudnya dengan jelas. Prinsip dasarnya selalu sama: latihan harus mendorong seseorang sedikit melampaui kemampuannya saat ini. Tiger Woods, misalnya, pernah terlihat sengaja menginjak bola golf hingga terbenam di pasir, lalu berlatih memukul dari posisi yang nyaris mustahil itu.

Untuk menjelaskan seberapa jauh latihan perlu mendorong kita, Colvin meminjam gambaran tiga lingkaran dari Noel Tichy, mantan kepala pusat pengembangan manajemen General Electric. Lingkaran terdalam adalah zona nyaman, tempat hal-hal yang sudah bisa kita lakukan dengan mudah. Lingkaran terluar adalah zona panik, tempat hal-hal yang terlalu sulit sampai kita tidak tahu harus mulai dari mana. Kemajuan hanya terjadi di lingkaran tengah, zona belajar. Menemukan zona ini tidak mudah, dan bertahan di dalamnya jauh lebih sulit lagi, karena zona itu terus bergeser seiring kemampuan kita bertambah.

Kedua, bisa diulang berkali-kali. Menurut Colvin, repetisi yang tinggi adalah pembeda paling penting antara berlatih dan melakukan sesuatu dalam situasi sungguhan. Tiger Woods mungkin hanya menghadapi bola yang terbenam di pasir dua atau tiga kali dalam satu musim. Kalau hanya mengandalkan kesempatan itu, ia tidak akan pernah mahir memukulnya. Tapi repetisi saja tidak cukup, karena kebanyakan dari kita juga mengulang sesuatu tanpa menjadi lebih baik. Bedanya ada pada dua hal: apa yang diulang harus berada di zona belajar, dan jumlah pengulangannya jauh melampaui kebiasaan orang pada umumnya. Ted Williams, pemukul terbaik dalam sejarah bisbol, berlatih memukul sampai tangannya berdarah. Moe Norman, pegolf yang dikenal dengan pukulannya yang selalu lurus, memukul delapan ratus bola sehari, lima hari seminggu, dari usia enam belas sampai tiga puluh dua tahun.

Ketiga, umpan balik atas hasilnya selalu tersedia. Colvin mengutip Steve Kerr, mantan kepala pembelajaran di Goldman Sachs, yang mengibaratkan berlatih tanpa umpan balik seperti bermain bowling di balik tirai yang menutupi pandangan sampai setinggi lutut. Kita bisa terus memperbaiki teknik, tapi karena tidak pernah melihat hasilnya, dua hal akan terjadi: kita tidak menjadi lebih baik, dan lama-lama kita berhenti peduli. Di olahraga, umpan balik biasanya mudah didapat. Pemain catur yang berlatih dengan mempelajari pertandingan para juara juga bisa langsung membandingkan langkah pilihannya dengan langkah sang juara. Masalahnya muncul ketika hasil perlu ditafsirkan. Kita mungkin merasa sudah memainkan satu bagian lagu dengan sempurna, atau merasa latihan wawancara kerja kita sudah lancar, tapi penilaian kita sendiri belum tentu bisa dipercaya. Di situasi seperti inilah pelatih atau mentor menjadi sangat penting.

Keempat, sangat menguras mental. Yang membuat latihan ini disebut deliberate, atau disengaja, adalah fokus dan konsentrasi penuh. Ini yang membedakannya dari memainkan tangga nada atau memukul bola tenis tanpa berpikir. Terus-menerus mencari bagian yang masih kurang, lalu berusaha sekuat tenaga memperbaikinya, adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Di berbagai bidang, batas atas deliberate practice ternyata cukup konsisten, yaitu sekitar empat sampai lima jam sehari, biasanya dalam sesi-sesi yang tidak lebih dari satu jam sampai satu setengah jam. Para pemain biola terbaik di Berlin berlatih sekitar tiga setengah jam sehari, dibagi dalam dua atau tiga sesi. Colvin juga menceritakan nasihat Leopold Auer, guru biola ternama, kepada muridnya, Nathan Milstein. Kalau berlatih hanya dengan jari, waktu seharian pun tidak akan cukup. Kalau berlatih dengan pikiran, satu setengah jam sudah memberi hasil yang sama.

Kelima, tidak menyenangkan. Ciri ini muncul dengan sendirinya dari empat ciri sebelumnya. Melakukan hal yang sudah kita kuasai itu menyenangkan, dan deliberate practice menuntut kebalikannya. Kita sengaja mencari bagian yang belum kita kuasai, mengulanginya berkali-kali, lalu setiap kali selesai, kita memaksa diri melihat atau meminta orang lain menunjukkan apa yang masih keliru. Proses itu terus diulang sampai kita lelah secara mental. Colvin mengakui ini terdengar suram, tapi ia menawarkan cara pandang lain. Kalau latihan yang membawa orang menuju kehebatan itu mudah dan menyenangkan, semua orang akan melakukannya, dan latihan itu tidak lagi membedakan yang terbaik dari yang lain. Justru karena berat, kebanyakan orang tidak akan melakukannya, dan kesediaan kita untuk tetap melakukannya menjadi pembeda.

Mengapa Pekerjaan Jarang Menjadi Latihan

Setelah merinci kelima ciri itu, Colvin sampai pada bagian yang paling relevan bagi siapa pun yang bekerja di sebuah perusahaan. Menurutnya, kehidupan di kebanyakan perusahaan justru berlawanan dengan prinsip-prinsip deliberate practice.

Aktivitas tersebut (pekerjaan sehari-hari) tidak dirancang oleh siapa pun untuk membuat kita lebih baik dalam hal apa pun. Kita hanya diberi tujuan yang diperlukan untuk mencapai sasaran pemberi kerja dan diharapkan untuk langsung mengerjakannya.

Kita dipekerjakan untuk menghasilkan sesuatu, bukan untuk mengasah kemampuan. Dari sudut pandang perusahaan, itu wajar. Tapi akibatnya, hampir tidak ada bagian dari pekerjaan sehari-hari yang memang dirancang untuk membuat kita lebih baik.

Colvin lalu menyebut contoh pekerjaan yang isinya cenderung berulang, salah satunya mengurus administrasi benefit karyawan. Pekerjaan semacam ini memang dilakukan berkali-kali, tetapi hampir tidak ada dorongan untuk melampaui batas kemampuan. Justru sebaliknya, karena kesalahan di tempat kerja sering mahal, semua insentif mendorong kita untuk tetap di jalur yang aman.

Soal umpan balik, kritik Colvin lebih tajam lagi. Di banyak perusahaan, umpan balik hanya datang lewat penilaian kinerja tahunan yang sama-sama ditakuti, baik oleh yang memberi maupun yang menerima.

Memberi tahu seseorang tentang apa yang telah ia kerjakan dengan baik atau buruk pada tugas yang diselesaikannya sebelas bulan lalu sama sekali tidak membantu.

Payroll, Bulan demi Bulan

Membaca contoh tentang administrasi benefit itu terasa seperti membaca deskripsi pekerjaan saya sendiri. Sebagian besar perjalanan karier saya ada di Compensation & Benefits. Payroll berjalan setiap bulan, dengan siklus yang hampir sama: mengumpulkan data, menghitung, memeriksa, membayar, lalu mengulanginya lagi bulan berikutnya.

Kalau dihitung-hitung entah sudah berapa banyak siklus payroll yang saya jalani. Tapi lima ciri tadi memaksa saya membedakan dua hal yang selama ini terasa sama. Mengulang siklus yang sama seratus kali tidak otomatis berarti berlatih seratus kali. Repetisinya ada, tapi pertanyaannya: berapa kali dari siklus itu saya sengaja mencari bagian yang paling sering salah, lalu memperbaikinya? Dan berapa kali saya hanya menjalankannya karena memang harus selesai tepat waktu?

Ini sejalan dengan experience trap yang dibahas di tulisan pertama. Pengalaman bertambah setiap bulan, tapi kemampuan hanya bertambah ketika ada upaya sadar untuk mendorongnya keluar dari zona nyaman.

Umpan Balik yang Datang Terlambat

Kritik Colvin tentang penilaian kinerja tahunan juga mengena langsung ke pekerjaan HR, karena sistem itu biasanya dirancang dan dijalankan oleh HR sendiri.

Bayangkan seorang karyawan yang baru tahu di akhir tahun bahwa caranya menangani satu pekerjaan di awal tahun ternyata keliru. Kesalahan itu mungkin sudah ia ulangi puluhan kali sepanjang tahun. Umpan balik semacam ini lebih mirip laporan sejarah daripada bahan untuk memperbaiki diri.

Di sinilah saya kembali pada keyakinan bahwa sistem perlu dibangun lebih dulu. Kalau kita ingin orang tumbuh, umpan balik tidak bisa hanya menjadi agenda tahunan. Ia perlu menjadi bagian dari cara kerja sehari-hari, entah lewat percakapan rutin dengan atasan, indikator yang bisa dipantau sendiri, atau tinjauan singkat setelah sebuah pekerjaan selesai.

Sebagai pembanding, saya melihatnya dari sisi lain pekerjaan saya, yaitu menulis kode. Di sana umpan balik datang hampir seketika. Kode yang salah langsung menampilkan pesan error, dan fitur yang tidak berjalan langsung terlihat saat diuji. Mungkin itu salah satu alasan keterampilan seperti pemrograman bisa dipelajari secara mandiri, karena siklus umpan baliknya pendek. Pertanyaannya bagi HR: bagaimana membuat siklus umpan balik di pekerjaan lain sependek itu?

Lapangan di Rumah

Ada satu hal lagi yang saya sadari setelah membaca lima ciri tadi. Latihan passing yang dulu saya lakukan di rumah sampai malam ternyata memenuhi beberapa di antaranya. Saya fokus pada satu keterampilan spesifik sesuai posisi saya sebagai playmaker. Saya mengulanginya berkali-kali. Dan kalau ingat bola yang dibelah ayah saya, jelas latihan itu juga tidak selalu menyenangkan.

Waktu itu saya tidak tahu istilahnya, dan tidak ada yang merancangnya untuk saya. Tapi mungkin justru di situ letak tantangannya bagi orang dewasa di tempat kerja. Ketika tidak ada pelatih yang merancang latihan, kita sendiri yang perlu merancangnya.

Sebelum Bab Berikutnya

Dua bab ini mengubah cara saya melihat pertanyaan di awal seri. Bedanya bukan antara orang yang bekerja keras dan yang tidak. Bedanya ada pada apa yang dikerjakan dalam waktu yang sama: sekadar mengulang yang sudah bisa, atau sengaja melatih yang belum bisa.

Di tulisan berikutnya, kita akan melihat apa yang sebenarnya berubah dalam diri seseorang setelah bertahun-tahun menjalani latihan seperti ini.

Sebelum itu, coba lihat pekerjaan yang Anda lakukan minggu ini. Berapa banyak di antaranya yang benar-benar membuat Anda lebih baik, dan berapa banyak yang sekadar mengulang apa yang sudah Anda kuasai?


Seri Talent Is Overrated

Other Writings