Blog

Talent Is Overrated: Prolog — Bakat, atau Latihan?

1 Oktober 2026Human Resource · Self Improvement · Book Review
Talent Is Overrated: Prolog — Bakat, atau Latihan?

Bola yang Dibelah Dua

Saat remaja, saya bergabung dengan sebuah sekolah sepak bola (SSB) di waktu yang kurang ideal. Tim itu sedang bersiap mengikuti turnamen yang digelar Persija untuk menjaring pemain muda usia U-15, atau U-17 kalau saya tidak salah ingat. Sebagian besar pemainnya sudah saling kenal dan bermain bersama selama bertahun-tahun. Sementara saya adalah orang baru.

Namun, justru saya yang kemudian dipercaya menjadi kapten dan mengenakan nomor 10. Turnamen itu akhirnya terhenti karena kisruh internal, tetapi nama saya sempat masuk dalam daftar pemain yang lolos seleksi.

Dari luar, cerita ini mungkin terdengar seperti kisah tentang bakat. Anak baru, langsung jadi kapten. Tapi ada bagian yang tidak mereka saksikan.

Sebelum bergabung dengan SSB, saya hanyalah anak kampung yang bermain bola seperti anak-anak lainnya. Bedanya, di luar bermain bersama teman, saya selalu meluangkan waktu untuk berlatih sendiri di rumah, kadang sampai malam. Posisi saya playmaker, jadi yang paling sering saya asah adalah passing, berulang-ulang.

Suatu malam, ayah saya marah karena saya tak juga berhenti berlatih. Bola yang saya pakai ia belah dua. Keesokan harinya, saya membeli bola baru dengan uang jajan sendiri, lalu kembali berlatih.

Setiap kali bermain, baik latihan maupun sparing, saya hampir selalu datang paling awal dan sudah berlatih sendiri sebelum teman-teman tiba.

Waktu itu saya tidak menyebutnya apa-apa. Saya hanya suka bermain bola dan ingin passing saya lebih baik. Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan istilah untuk kebiasaan itu dalam sebuah buku. Dan istilah itu bukan "bakat".

Kata yang Terlalu Mudah Diucapkan

Di dunia HR, ada satu kata yang begitu sering kita pakai sampai jarang kita pertanyakan: berbakat.

Kita menyebutnya saat membaca CV yang mengesankan. Kita mengucapkannya dalam rapat penilaian kinerja, ketika satu nama terasa menonjol dibanding yang lain. Kita menuliskannya dalam program talent management, seolah-olah talenta adalah sesuatu yang tinggal ditemukan, lalu dijaga baik-baik.

Selama bertahun-tahun, saya pun memakainya tanpa banyak berpikir. Sampai suatu hari muncul pertanyaan yang sederhana tapi mengganggu: kalau seseorang kita sebut berbakat, apa sebenarnya yang sedang kita lihat? Bawaan lahir, atau hasil dari sesuatu yang tidak sempat kita saksikan?

Sebuah Buku yang Menggugat

Pertanyaan itu yang membawa saya pada Talent Is Overrated, buku karya Geoff Colvin yang terbit pada 2008. Colvin adalah jurnalis senior di majalah Fortune, dan buku ini lahir dari rasa penasarannya terhadap satu hal: apa yang sesungguhnya membedakan para performer kelas dunia dari kebanyakan orang?

Jawaban yang ia tawarkan cukup berani. Menurutnya, bakat bawaan tidak sepenting yang selama ini kita yakini. Yang jauh lebih menentukan adalah apa yang ia sebut deliberate practice, yaitu latihan yang dirancang secara sadar untuk memperbaiki kelemahan, dilakukan berulang-ulang, disertai umpan balik, dan dijalani selama bertahun-tahun.

Colvin tidak sedang menulis buku motivasi. Argumennya bersandar pada puluhan tahun riset para psikolog tentang keahlian, terutama karya K. Anders Ericsson. Ia menelusuri kisah musisi, atlet, pemain catur, hingga eksekutif bisnis, lalu sampai pada kesimpulan yang tidak selalu nyaman: kehebatan jarang datang sebagai hadiah. Ia lebih sering merupakan hasil kerja yang panjang, berat, dan kerap tidak menyenangkan.

Pertanyaan yang Kembali Datang

Saya sudah lebih dari sembilan tahun bekerja di bidang HR, hampir seluruhnya di industri logistik. Sebagian besar waktu itu saya habiskan di Compensation & Benefits dan HRIS: menyusun struktur upah, merapikan payroll, membangun sistem. Belum lama ini, saya dipercaya memegang peran sebagai HR Manager.

Peran baru membawa saya mendekati wilayah yang selama ini lebih sering saya amati dari pinggir: talent management. Dan di sana, pertanyaan lama itu kembali datang, kali ini dengan wajah yang lebih praktis.

Di dunia HR, kita terbiasa memetakan orang. Tipe kepribadian ini cocok di bagian itu. Hasil psikotes seperti ini seharusnya menempati posisi tersebut. Saya tidak menafikan semua itu, karena alat-alat semacam ini tetap ada gunanya. Tetapi dari pengalaman saya, ketepatannya tidak sesignifikan yang sering kita bayangkan.

Keyakinan saya justru berangkat dari arah sebaliknya: bangun sistemnya lebih dulu, baru orangnya. Sistem yang baik akan menumbuhkan orang-orang di dalamnya. Pada saat yang sama, ia juga akan menyaring dengan sendirinya mereka yang memang tidak sejalan.

Di titik inilah buku Colvin terasa mengusik sekaligus menguatkan. Kalau benar kehebatan lebih banyak dibentuk daripada dibawa sejak lahir, maka tugas HR bukan sekadar menemukan orang berbakat lalu menempatkannya di kotak yang tepat. Tugas kita adalah menciptakan kondisi agar orang bisa menjadi hebat.

Ada juga sisi yang lebih personal. Di luar pekerjaan HR, saya belajar menjadi fullstack developer, sebuah bidang yang sama sekali berbeda dari HR. HR mengurus manusia, programmer berhadapan dengan mesin. Perjalanan itu membuat saya bertanya pada diri sendiri: apakah kemampuan yang saya miliki sekarang lahir dari bakat, atau dari jam-jam panjang mencoba, gagal, dan memperbaiki?

Tentang Seri Ini

Tulisan ini adalah pembuka dari sebuah seri. Dalam beberapa pekan ke depan, saya akan membaca Talent Is Overrated bab demi bab, lalu menuliskan apa yang saya temukan.

Namun seri ini bukan ringkasan buku. Ringkasan bisa Anda temukan di banyak tempat, dan membaca bukunya langsung tentu jauh lebih baik. Yang ingin saya lakukan adalah menempatkan gagasan Colvin berdampingan dengan keseharian yang saya jalani: di ruang rapat, di meja payroll, di lapangan bersama tim operasional, dan di depan layar saat menulis kode.

Setiap tulisan akan mengambil satu gagasan inti, lalu mengujinya dengan pengalaman. Kadang gagasan itu terasa tepat. Kadang ia perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia dan dunia logistik. Dan kadang, mungkin, saya justru tidak sepakat.

Seri ini akan berjalan kurang lebih seperti ini:

  1. Mitos bernama bakat
  2. Seberapa cerdas yang sebenarnya dibutuhkan
  3. Bekerja tidak sama dengan berlatih
  4. Apa yang berubah dalam diri seorang ahli
  5. Menerapkannya dalam keseharian
  6. Menerapkannya dalam organisasi
  7. Inovasi bukan kilatan ilham
  8. Usia, dan dari mana gairah datang

Sebelum Kita Mulai

Saya tidak memulai seri ini dengan jawaban. Saya memulainya dengan rasa ingin tahu, dan sedikit kecurigaan bahwa selama ini kita terlalu cepat menyerahkan segalanya pada kata "bakat".

Karena jika kehebatan memang bisa dilatih, ada kabar baik sekaligus tuntutan di dalamnya. Kabar baiknya, pintu itu terbuka bagi siapa saja. Tuntutannya, tidak ada lagi alasan untuk berhenti berusaha.

Sebelum masuk ke bab pertama, saya ingin mengajak Anda merenung sejenak: kemampuan apa yang Anda miliki hari ini, yang dulu sama sekali tidak Anda kuasai? Dan apakah ia datang dari bakat, atau dari latihan yang tidak pernah Anda hitung?

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Other Writings