Kenapa Saya Seorang HR, Repot-Repot Belajar Coding?

Pertanyaan ini sudah beberapa kali saya terima. Dari teman sesama HR yang heran, dari engineer yang tidak menyangka orang HR membaca dokumentasi teknis, dari rekan kerja yang bertanya apakah saya berencana pindah profesi.
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Perjalanannya panjang, tidak linear, dan tidak pernah saya rencanakan sejak awal. Tulisan ini adalah cerita lengkapnya.
Benih Awal: Suka Ngulik Komputer Sejak Kecil
Ketertarikan saya pada teknologi sudah ada sejak masa kecil — meski waktu itu wujudnya masih sangat sederhana. Saya suka bermain game di komputer, dan dari kebiasaan itu saya jadi akrab dengan perangkat yang satu ini. Bukan sampai membongkar sistem atau instal ulang Windows, tapi cukup untuk merasa nyaman duduk di depannya berjam-jam dan penasaran dengan apa yang bisa dilakukan.
Dari sana, rasa penasaran itu tumbuh pelan-pelan. Saya mulai iseng mencoba hal-hal di luar game — menjelajahi pengaturan, mencoba software lain, bertanya-tanya tentang cara kerja sesuatu di balik layar. Tidak ada yang mengajari saya. Tidak ada kursus, tidak ada guru. Yang ada hanya rasa penasaran yang tidak pernah habis: kalau saya ubah ini, apa yang terjadi? Kalau hasilnya error, saya cari sendiri cara memperbaikinya. Kalau berhasil, saya cari hal berikutnya untuk dijelajahi.
Rasa penasaran itu terbawa sampai dewasa. Tapi untuk waktu yang cukup lama, ia hanya menjadi latar belakang — bukan sesuatu yang aktif saya kejar. Saya memilih karir di HR dan fokus di sana. Komputer dan teknologi tetap ada, tapi sebatas alat yang saya pakai, bukan sesuatu yang saya bangun.
Sampai dua momen berbeda mengubah perspektif saya sepenuhnya.
Trigger Pertama: Melihat HRIS yang Benar-Benar Bekerja
Di satu perusahaan, saya berkesempatan menggunakan HRIS yang dirancang dengan sangat baik. Bukan sekadar aplikasi penyimpan data karyawan — tapi sistem yang benar-benar memangkas cara kerja secara signifikan.
Sebelumnya, keseharian tim HR saya dipenuhi proses manual yang melelahkan. Data absensi dikumpulkan satu per satu dari mesin fingerprint lalu diinput ke Excel. Perhitungan lembur dikerjakan ulang setiap bulan dengan rumus yang berbeda tergantung shift dan hari. Laporan BPJS dibuat tangan lalu diupload satu per satu. Rekrutmen dikelola lewat email dan spreadsheet yang terus bertumpuk.
Semua itu memakan waktu. Dan semua itu rawan human error.
Setelah HRIS diterapkan dengan benar, lebih dari 50% proses administrasi itu hilang — bukan dipindahkan ke format digital, tapi benar-benar hilang karena sistem sudah menanganinya dari hulu ke hilir. Waktu yang biasa tersita untuk administrasi mendadak tersedia untuk hal yang lebih bermakna: program employee engagement, perencanaan pengembangan tim, analisis data workforce.
Saya terpukau. Dan saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya hanya saya dengar secara abstrak: teknologi yang baik bukan tentang mengganti kertas dengan layar. Ia tentang menyederhanakan, memotong yang tidak perlu, dan memberi ruang untuk pekerjaan yang benar-benar penting.
Tapi ada yang mengganjal. Saya hanya menjadi pengguna. Setiap kali ada kebutuhan spesifik yang tidak tercover sistem — laporan custom untuk manajemen, integrasi dengan data dari sumber lain — saya harus mengantri ke tim IT. Kadang selesai dalam seminggu, kadang sebulan, kadang tenggelam di antara prioritas lain.
Saya ingin lebih dari sekadar bergantung dan menunggu.
Trigger Kedua: Macro Excel yang Mengubah 7 Hari Menjadi 30 Menit
Titik balik sesungguhnya bukan dari belajar JavaScript atau ikut bootcamp. Ia terjadi jauh sebelum itu — dari spreadsheet dan sebuah masalah yang sudah lama membuat frustrasi.
Setiap bulan, tim saya menghabiskan tiga sampai tujuh hari hanya untuk menghitung lembur. Ratusan karyawan dengan berbagai kondisi: shift siang, shift malam, hari libur nasional, weekend. Rumus perhitungannya berbeda-beda dan bertingkat. Semuanya harus akurat karena menyangkut uang karyawan — satu kesalahan berarti komplain, revisi, dan kepercayaan yang turun.
Saya tidak tahan dengan inefisiensi itu. Saya ingat Excel punya sesuatu yang disebut macro, dan saya mulai mencari tahu. Tanpa pengetahuan formal tentang programming, saya menonton tutorial VBA di YouTube malam-malam setelah kerja, membaca forum, mencoba, gagal, memperbaiki, mencoba lagi.
Kadang satu baris kode yang error menghabiskan dua jam untuk ditemukan masalahnya — dan ternyata hanya typo satu huruf.
Tapi ketika macro itu akhirnya berjalan, saya duduk diam sebentar menatap layar.
Proses yang tadinya tiga sampai tujuh hari selesai dalam 30 menit.
Saya tidak bisa menggambarkan perasaan itu dengan tepat. Campuran antara lega, bangga, dan tidak percaya. Untuk pertama kalinya, saya menulis kode — meski hanya VBA di Excel — dan kode itu menyelesaikan masalah nyata. Dampaknya langsung terasa. Tim terbebas dari beban yang selama ini dianggap sudah wajar dan tidak bisa diapa-apakan.
Di momen itu saya menyadari dua hal: banyak masalah di HR sebenarnya bisa diselesaikan dengan logika dan otomatisasi. Dan ini bukan sihir — ini sesuatu yang bisa dipelajari.
Belajar dari YouTube, Lalu Bootcamp
Dari VBA Excel, rasa penasaran saya meluas. Saya ingin tahu bagaimana aplikasi web yang sesungguhnya dibuat. Bagaimana orang membangun sistem seperti HRIS yang pernah saya pakai.
Saya mulai dari YouTube. Malam-malam setelah kerja, saya menonton tutorial HTML, CSS, JavaScript dasar. Mengetik kode yang sama, memodifikasi sedikit untuk melihat apa yang berubah. Hello World pertama di browser terasa seperti pencapaian kecil yang sangat memuaskan.
Setelah beberapa bulan belajar mandiri, saya merasa butuh struktur yang lebih jelas. Ada konsep yang sulit dipahami tanpa mentor. Ada praktik yang butuh feedback. Dan belajar sendirian itu sepi — motivasi mudah naik turun, dan kalau stuck, tidak tahu harus tanya siapa.
Saya memutuskan ikut bootcamp programming yang fokus pada fullstack JavaScript. Di sana saya mulai membangun project yang lebih nyata — aplikasi dengan database, authentication, REST API. Setiap project adalah pelajaran baru. Setiap bug yang berhasil dipecahkan adalah kemenangan kecil yang menjaga saya terus bergerak.
Keputusan yang Terdengar Gila: Kuliah Teknik Informatika Sambil Bekerja
Semakin dalam saya masuk ke dunia development, semakin saya merasa butuh fondasi yang lebih kuat. Bootcamp mengajarkan bagaimana membuat sesuatu berfungsi — tapi saya juga ingin tahu mengapa sesuatu bekerja seperti itu. Algoritma, struktur data, arsitektur sistem — hal-hal yang tidak selalu sempat diajarkan di bootcamp karena keterbatasan waktu.
Saya memutuskan kuliah Teknik Informatika sambil tetap bekerja penuh waktu sebagai HR Supervisor.
Reaksi orang-orang di sekitar saya bervariasi. Ada yang kagum, ada yang khawatir, ada yang terus terang bertanya apakah saya masih bisa fokus di pekerjaan utama.
Kenyataannya: lelah itu nyata. Ada hari-hari di mana pagi sampai sore mengurus rekrutmen, rapat, dan permasalahan karyawan — lalu malam dan akhir pekan berubah menjadi sesi mengerjakan tugas kuliah dan proyek coding. Tapi setiap kali berhasil menggabungkan kedua dunia itu — membuat sistem internal yang membantu tim HR bekerja lebih efisien, mengotomasi laporan yang sebelumnya memakan berjam-jam — semua kelelahan itu terasa sepadan.
Di sinilah saya mulai melihat dengan lebih jelas: HR dan teknologi bukan dua dunia yang bertolak belakang. Keduanya bertemu di satu titik yang sangat fundamental — pemecahan masalah. Dan di persimpangan itu, ada ruang yang masih jarang diisi.
Sekarang: Membangun Platform, Mengejar Cita-Cita
Stack yang saya kuasai saat ini adalah Fullstack JavaScript dengan Next.js — kombinasi yang memungkinkan saya membangun aplikasi dari antarmuka pengguna hingga logika server dan database, dalam satu ekosistem yang sama.
Proyek-proyek yang saya kerjakan sebagian besar bersinggungan dengan dua dunia yang saya kenal: HR dan pembelajaran. Bukan kebetulan — saya membangun apa yang saya pahami dan apa yang saya pedulikan.
Proyek yang paling saya investasikan saat ini adalah Marifah Course, sebuah platform online course yang masih dalam tahap pengembangan. Di baliknya ada cita-cita yang sudah lama saya simpan: saya ingin mendirikan lembaga pendidikan yang terjangkau dan bisa diakses semua kalangan.
Saya tahu itu tidak bisa diwujudkan sekaligus. Membangun institusi pendidikan fisik butuh waktu, sumber daya, dan banyak hal yang belum ada di tangan saya sekarang. Tapi saya menolak menjadikan itu alasan untuk tidak memulai. Maka saya mulai dari yang bisa saya kerjakan hari ini — sekolah online, tempat di mana siapa pun bisa belajar tanpa hambatan akses yang terlalu besar. Marifah Course adalah langkah pertama itu.
Tidak Mau Hanya Jadi Pengguna
Ada satu hal yang mendasari semua ini, dan mungkin yang paling fundamental dari semuanya.
Saya hidup di era di mana teknologi membentuk hampir setiap aspek kehidupan dan pekerjaan. Setiap hari saya menggunakan aplikasi yang dibuat orang lain. Dan untuk waktu yang lama, saya puas dengan itu.
Tapi lama-kelamaan saya merasa ada yang kurang. Saya tidak ingin hanya menjadi pengguna pasif dari perubahan digital yang sedang terjadi. Saya ingin ikut andil — memahami cara kerjanya, bukan hanya mengikutinya dari belakang.
Ini bukan berarti setiap orang HR harus belajar coding. Tidak. Tapi untuk saya, ini adalah pilihan yang terasa paling tepat. Karena ada perbedaan besar antara sekadar memakai dan benar-benar memahami. Antara meminta fitur ke vendor sambil berharap, dan duduk bersama tim teknis — atau mengerjakan sendiri — dengan pemahaman yang cukup untuk berkata: saya tahu apa yang kita butuhkan, dan saya tahu bagaimana kita bisa membangunnya.
Perjalanan ini belum selesai — dan saya tidak ingin terburu-buru sampai ke ujungnya. Yang saya tahu: setiap langkah membawa saya ke pemahaman yang lebih dalam — tentang teknologi, tentang organisasi, dan tentang apa yang sebenarnya ingin saya kontribusikan. Semua ini dimulai bukan dari ambisi besar atau rencana yang matang. Ia dimulai dari kebiasaan kecil seorang anak yang suka duduk di depan komputer, dan rasa penasaran yang tidak pernah benar-benar padam. Dan semuanya dimulai dari satu pertanyaan sederhana :
Kalau saya ubah ini, apa yang terjadi?
Daftar Isi
Other Writings
8 Apr 2026Halo Dunia!
Halo Dunia! Mari berkenalan dengan saya, Faqih Nur Fahmi, HR Manager dan Web Developer. Simak bagaimana saya memadukan dunia Human Resources dengan Software Engineering.
20 Okt 2026Talent Is Overrated #8: Usia, dan dari Mana Gairah Datang
Review Bab 10–11 Talent Is Overrated: peran usia, lingkungan, dan dari mana gairah untuk terus berlatih berasal. Penutup seri dengan refleksi dari dunia HR.
18 Okt 2026Talent Is Overrated #7: Inovasi Bukan Kilatan Ilham
Review Bab 9 Talent Is Overrated: mengapa inovasi lahir dari pengetahuan mendalam dan latihan bertahun-tahun, bukan momen eureka, serta implikasinya bagi organisasi.