Blog

Portofolio yang Efektif ala Josh Comeau

10 April 2026Technology · Book Review
Portofolio yang Efektif ala Josh Comeau

Kenapa Portofoliomu Mungkin Tidak Bekerja?

Review: "Building an Effective Dev Portfolio" oleh Josh Comeau


Di dunia kerja tech yang semakin ramai, portofolio bukan lagi opsional. Ini adalah senjata utama kamu — terutama kalau kamu belum punya pengalaman kerja yang panjang, baru keluar dari bootcamp, atau sedang transisi karir. Tapi ada masalah besar yang jarang dibicarakan: kebanyakan developer sudah punya portofolio, tapi portofolio mereka tidak benar-benar membantu.

Bukan karena proyeknya jelek. Bukan karena desainnya buruk. Tapi karena portofolio itu tidak bercerita. Tidak meyakinkan siapapun tentang siapa pemiliknya dan mengapa mereka layak dipanggil interview.

Saya sudah cukup lama bersentuhan dengan dunia ini — baik dari sisi HR yang mereview lamaran, maupun sebagai Fullstack Developer yang tahu seperti apa sebuah proyek teknis dari dalam. Dan satu ebook yang akhirnya merangkum semua yang ingin saya katakan tentang topik ini adalah "Building an Effective Dev Portfolio" oleh Josh Comeau.

Yang membedakan buku ini dari konten serupa di luar sana? Mayoritas panduan portofolio developer berhenti di permukaan: "pakai Gatsby, deploy ke Vercel, tambah foto profil." Josh justru memulai dari pertanyaan yang lebih dalam — siapa yang membaca portofoliomu, apa yang mereka cari, dan bagaimana kamu menyampaikannya dalam waktu 60 detik? Buku ini ditulis oleh seseorang yang sudah duduk di kedua kursi: sebagai developer sekaligus sebagai orang yang terlibat dalam proses hiring di perusahaan seperti Khan Academy dan Unsplash. Sudut pandang itu yang membuat isinya terasa berbeda.

Ini yang saya pelajari.


Portofolio bukan sekadar "pajangan proyek"

Josh membuka dengan satu premis yang langsung menohok: kebanyakan junior developer punya portofolio yang, secara jujur, tidak membantu sama sekali. Strukturnya mungkin benar — ada foto profil, daftar proyek, form kontak. Tapi isinya bisa ditukar dengan siapapun tanpa ada yang sadar.

Ia bahkan membuat contoh portofolio fiktif yang dia sebut "generic portfolio" — dan yang bikin tidak nyaman adalah betapa miripnya itu dengan portofolio nyata yang beredar di luar sana. Bagian "About Me"-nya berbunyi seperti ini:

"I am a junior full stack software developer from Anytown. I am passionate about web development and about languages such as HTML, CSS, and Javascript. I recently graduated from Apex College's 12-week intensive web development bootcamp and I am looking for a full-stack position. When not coding, I enjoy hanging out with my friends."

"Saya adalah junior full stack software developer dari [kota]. Saya passionate dengan web development dan bahasa seperti HTML, CSS, dan Javascript. Saya baru lulus dari bootcamp 12 minggu dan sedang mencari posisi full-stack. Di luar coding, saya suka hangout dengan teman-teman."

Josh kemudian berkata dengan jelas: kalau kamu bisa swap nama dan kota di bagian "About Me" kamu, dan hasilnya masih terasa sama — itu tanda bahwa portofoliomu belum bekerja untukmu.

Ini yang sering saya lihat dari sisi HR: kandidat menulis dengan "nada profesional" yang terasa seperti press release perusahaan, bukan seperti manusia sungguhan. Justru itu yang bikin mereka mudah dilupakan di antara tumpukan lamaran.


Dua audiens yang harus kamu pikirkan

Salah satu insight terkuat di buku ini adalah tentang siapa sebenarnya yang membaca portofoliomu — dan ini adalah sesuatu yang jarang dibahas di tempat lain.

HR / Hiring Manager mencari tiga hal utama: kompetensi, antusiasme, dan fit. Mereka memutuskan dalam 30–60 detik pertama. Mereka bukan developer, jadi mereka tidak akan menggali GitHub repo kamu. Mereka membaca cerita kamu, mencari alasan untuk melanjutkan — atau melewati.

Software Developer yang ikut mereview justru tidak terlalu peduli dengan daftar teknologi yang kamu kuasai. Josh menulis:

"Unlike HR hiring managers, developers generally aren't very interested in what languages or frameworks you know. In fact, for junior roles, developers care much more about your potential rather than what you happen to know already. They want to know if you'll be easy to mentor."

"Berbeda dengan HR hiring manager, developer umumnya tidak terlalu tertarik dengan bahasa atau framework apa yang kamu kuasai. Untuk posisi junior, developer jauh lebih peduli dengan potensimu daripada apa yang sudah kamu ketahui saat ini. Mereka ingin tahu apakah kamu akan mudah di-mentor."

Dua audiens ini punya kebutuhan yang berbeda, dan portofolio yang baik harus menjawab keduanya — sekaligus. Buku ini menjelaskan dengan cukup konkret bagaimana caranya.


Jadilah tour guide, bukan sekadar menempel screenshot

Ini bagian yang paling saya suka dari buku ini — dan mungkin yang paling penting.

Banyak portofolio hanya menampilkan: thumbnail proyek, nama, satu kalimat deskripsi, stack teknologi, dan link ke GitHub. Lalu berharap si reviewer akan klik dan menjelajahi sendiri.

Josh bilang: jangan taruh terlalu banyak harapan di sana. Karena kemungkinan besar mereka tidak akan klik. Dan kalau pun klik, live demo tidak menceritakan hal-hal yang justru paling penting:

  • Kenapa kamu membangun ini?
  • Apa bagian yang paling menantang secara teknis?
  • Bagaimana kamu memecahkan masalah itu?
  • Apa yang kamu pelajari?
  • Bagaimana proyek ini mempengaruhi cara kamu bekerja setelahnya?

"We want to tell a story about how a project came to be. It's much more interesting than showing a final product, without context. It also sends a much stronger signal to employers about what you can do!"

— "Kita ingin menceritakan bagaimana sebuah proyek terbentuk. Itu jauh lebih menarik daripada sekadar menampilkan produk akhir tanpa konteks. Dan itu juga memberikan sinyal yang jauh lebih kuat kepada employer tentang apa yang bisa kamu lakukan!"

Setiap proyek idealnya punya halaman tersendiri yang menceritakan perjalanannya. Josh bahkan memberikan template lengkap untuk isi halaman tersebut — mulai dari Introduction, Purpose and Goal, Spotlight (bagian teknis yang paling menantang), Current Status, sampai Lessons Learned. Ini bukan sekadar saran umum; ini panduan yang bisa langsung dieksekusi.


Studi kasus: portofolio Julia Johnson

Salah satu bagian terbaik di buku ini adalah Chapter III, sebuah studi kasus nyata tentang portofolio milik Julia Johnson — mahasiswi Purdue University yang saat itu magang di IBM. Josh menelaah portofolionya secara mendalam dan menunjukkan kenapa portofolio itu berhasil.

Beberapa hal yang Josh highlight dari portofolio Julia:

Menunjukkan, bukan sekadar mengklaim. Julia tidak pernah menulis "saya adalah coder yang hebat." Tapi halaman proyeknya menjelaskan secara rinci tantangan teknis yang dia hadapi — termasuk bagaimana dia menggunakan feature flags untuk merilis produk secara bertahap, dan kenapa dia memilih GraphQL dan Shopify SDK. Pembaca menyimpulkan sendiri bahwa dia kompeten.

Menunjukkan keterbukaan untuk belajar. Di bagian About-nya, Julia menulis:

"As I've grown as a developer, I've worked alongside senior designers and developers who have raised my standards for what's expected of any web application."

— "Seiring saya berkembang sebagai developer, saya bekerja berdampingan dengan senior designer dan developer yang telah meningkatkan standar saya tentang apa yang diharapkan dari sebuah web application."

Josh sangat menyukai kalimat ini. Satu kalimat, tapi menyampaikan dua hal sekaligus: kemampuan yang sudah terbentuk, dan sikap yang terbuka untuk terus belajar. Persis yang dicari employer untuk posisi junior.

"Sprinkles" yang berkesan. Portofolio Julia punya animasi halus saat halaman dibuka, zoom effect saat hover di thumbnail proyek, dan bahkan easter egg tersembunyi di developer console. Detail-detail kecil ini tidak wajib — tapi mereka menciptakan kesan bahwa pemiliknya genuinely menikmati apa yang mereka buat.


Hal-hal yang sebaiknya kamu hindari

Josh cukup tegas soal ini, dan dari pengalaman saya di HR, saya setuju sepenuhnya.

Skill chart / progress bar kemampuan. Bar yang menunjukkan "JavaScript: 85%" tidak bermakna apa-apa. Tidak ada standar universalnya. Josh menuliskan dengan lugas:

"It's a no-win scenario. If the number you pick is too high to be realistic for someone of your level, you'll be seen as boastful and overconfident. If the number you pick is realistic, it will probably be low enough that it just doesn't look very good."

— "Ini adalah situasi yang tidak bisa kamu menangkan. Kalau angkanya terlalu tinggi untuk level kamu, kamu akan terlihat sombong. Kalau angkanya realistis, kemungkinan besar angka itu cukup rendah sehingga tidak terlihat bagus."

Tutorial projects. Proyek yang dibuat dengan mengikuti langkah-langkah tutorial tidak menunjukkan kemampuan kamu bekerja secara mandiri. Kalau mau dimasukkan, pastikan kamu sudah menambahkan ekstensi yang signifikan — lebih dari 50% waktu total harus dihabiskan untuk bagian yang kamu tambahkan sendiri.

Terlalu banyak proyek. 2 hingga 5 proyek itu ideal. Josh punya analogi yang bagus: kalau kamu punya 12 proyek, reviewer mungkin hanya melihat 1–2, dan kamu tidak bisa mengontrol mereka akan mulai dari mana. Kedalaman jauh lebih penting dari kuantitas.

Bravado. Kalimat seperti "Master of JavaScript" atau "10x developer" justru memberi kesan bahwa kamu sudah berhenti belajar. Employer untuk posisi junior mencari orang yang eager to learn, bukan yang merasa sudah tahu segalanya.


Tentang desain, tooling, dan tone penulisan

Desain tidak harus sempurna, tapi harus layak. Josh menyarankan untuk mencari inspirasi dari 2–3 template berbeda lalu menggabungkannya — bukan meng-copy satu portofolio orang lain secara mentah-mentah. Dia bahkan menyebut satu kasus di mana beberapa developer meng-copy portofolio Brittany Chiang piksel per piksel, dan mengingatkan bahwa recruiter yang berpengalaman akan mengenali itu.

Untuk tooling, Josh merekomendasikan membangun dari kode sendiri (bukan Squarespace atau Webflow) jika kamu melamar posisi front-end atau full-stack. Developer yang mereview lamaranmu akan tahu perbedaannya — dan ada risiko mereka mempertanyakan kenapa seseorang yang mengklaim punya front-end skills justru menggunakan site builder.

Tone penulisan adalah salah satu hal yang paling sering diremehkan. Baca ulang teks "About Me" kamu dengan keras. Kalau terdengar kaku dan formal seperti email ke atasan — tulis ulang. Portofolio terbaik terasa seperti mengobrol dengan orangnya langsung. Singkat, spesifik, dan terasa manusiawi.


Template halaman proyek yang bisa langsung dipakai

Karena ini salah satu bagian paling actionable di buku ini, saya mau rangkum template yang Josh berikan untuk halaman detail proyek:

Introduction — Deskripsi singkat apa proyeknya, fitur utamanya, peranmu, teknologi yang digunakan, dan link ke demo atau source code.

Purpose and Goal — Kenapa kamu membangun ini? Apa masalah yang ingin dipecahkan? Apa desain awalnya?

Spotlight — Bagian teknis yang paling menantang. Fitur yang paling membanggakan. Hambatan apa yang kamu temui dan bagaimana kamu mengatasinya? Tulis dengan developer sebagai pembaca.

Current Status (opsional) — Kalau proyeknya digunakan orang sungguhan, ceritakan. Kalau dibuat khusus untuk portofolio, bagian ini bisa dilewati.

Lessons Learned — Apa yang kamu pelajari? Bukan hanya teknis — termasuk pelajaran tentang project management, kolaborasi, atau cara shipping. Bagaimana proyek ini mempengaruhi cara kerja kamu setelahnya?


Apa yang akan saya terapkan

Membaca buku ini mengingatkan saya bahwa portofolio bukan dokumen statis — ini adalah narasi hidup tentang siapa kamu dan apa yang bisa kamu kerjakan.

Beberapa hal yang langsung ingin saya terapkan (dan mungkin relevan juga untuk kamu):

  1. Tulis ulang bagian "About Me" dengan cerita yang spesifik — ada satu momen atau perjalanan konkret yang menjelaskan kenapa kamu ada di sini sekarang.
  2. Buat halaman detail untuk setiap proyek — ceritakan proses, tantangan, dan pelajaran; bukan hanya daftar fitur.
  3. De-emphasize link live demo — jadikan itu bukti bahwa proyeknya nyata, bukan pusat perhatian utama.
  4. Tambahkan "sprinkles" — detail kecil yang mencerminkan kepribadian, seperti animasi halus atau easter egg tersembunyi.
  5. Hapus skill chart kalau ada — ganti dengan cerita konkret tentang bagaimana kamu menggunakan skill itu dalam proyek nyata.

Buku ini gratis, dan bisa diakses di joshwcomeau.com/effective-portfolio. Kalau kamu sedang membangun portofolio — atau merasa portofoliomu sudah ada tapi belum pernah benar-benar membawakan hasil — saya sangat merekomendasikan untuk membacanya dari awal sampai akhir.

Karena pada akhirnya, portofolio yang baik bukan tentang seberapa keren proyekmu. Ini tentang seberapa baik kamu menceritakannya.

Other Writings